Masjid Al Mashun Medan

Saturday, January 27th 2018. | Uncategorized

Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun

Merupakan sebuah masjid yang terletak di Medan, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini menyatu dengan kompleks istana.

Masjid Raya Medan yang berdiri Kokoh berada tak jauh dari Istana Maimun adalah bangunan yang juga menjadi jejak kejayaan Deli. Dibangun pada tahun 1906, semasa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid, masjid ini masih berfungsi seperti semula, yaitu melayani umat muslim di Medan yang ingin beribadah.

Kubahnya yang pipih dan berhiaskan bulan sabit di bagian puncak, menandakan gaya Moor yang dianutnya. Seperti masjid lainnya, sebuah menara yang menjulang tinggi terlihat menambah kemegahan dan religiusnya mesjid ini. Tampak lukisan di lukis dengan cat minyak berupa bunga-bunga dan tumbuhan yang berkelok-kelok di dinding, plafon dan tiang-tiang kokoh di bagian dalam mesjid ini, semakin menunjukkan tingginya nilai seni masjid ini.

Masjid Al Mashun Medan

  1. Sejarah Pembangunan

Masjid Raya al-Mashun mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 selesai dan dibuka untuk umum pada 10 September 1909 M. Saat itu, yang berkuasa di Kesultanan Deli adalah Sultan Mamun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX. Seluruh biaya pembangunan masjid, yang diperkirakan mencapai satu juta gulden dan ditanggung sendiri oleh Sultan. Masjid ini merupakan masjid kerajaan, oleh sebab itu dibangun sangat megah. Ketika itu, Sultan berprinsip, kemegahan masjid lebih utama daripada istananya sendiri. Ada tiga sebutan populer untuk masjid ini yaitu:  Masjid al-Mashun, Masjid Deli dan

Masjid Agung Medan

Masjid Raya al-Mashun merupakan tempat kebanggaan warga Medan saat itu. Seiring perkembangan zaman, kemudian terbentuk sebuah pemukiman baru di sebelah masjid yang disebut Kota Maksum, sehingga jamaah masjid semakin ramai. Saat ini, selain menjadi pusat ibadah kaum muslim di kota Medan, Masjid al Mashun juga menjadi daerah tujuan wisata yang dikunjungi para turis domestik dan mancanegara. Salah satu kelebihan masjid ini adalah, masih dalam bentuk dan bangunan yang asli, belum mengalami perubahan secara spesifik.

  1. Arsitektur

Bangunan masjid terbagi menjadi tiga yaitu ruang utama, tempat wudhu dan gerbang masuk. Ruang utama digunakan sebagai tempat shalat, bentuknya seperti persegi delapan tidak sama sisi. Pada sisi yang berhadapan lebih kecil, terdapat porch, yaitu unit yang menempel dan menjorok keluar. Di depan tiap-tiap porch terdapat tangga. Pada porch depan yang terletak di timur, terdapat plengkung majemuk, seperti pelengkung yang terdapat di masjid-masjid sekitar Andalusia.

Sisi kiri (selatan-timur) dan kanan (utara-timur) ruang shalat utama dikelingi oleh gang. Gang ini mempunyai deretan bukaan (jendela tak berdaun) yang melengkung dan berdiri di atas balok, bukan kolom. Bentuk denah segi delapan pada ruang utama diperlihatkan dengan tampilan kolom-kolom berbentuk silindris pada masing-masing titik sudut marmer. Kolom-kolom tersebut menyangga pelengkung yang bentuk dan hiasannya bercorak Moorish dan Arabesque. Di atas plengkung-plengkung tersebut, terdapat tambour (dinding tumpuan kubah) tumpuan kubah utama.

Kubah utama terbesar mengatapi bagian tengah di depan mihrab dan mimbar. Bentuk kubah itu mengikuti model masjid di Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kemudian, di antara kubah, gang keliling dan bagian depan ruang shalat terdapat atap bersisi miring tunggal. Pada dinding tumpuan kubah (tambour), terdapat jendela atas, demikian pula pada dinding atas teras dalam, sehingga ruang shalat utama cukup mendapat cahaya. Kubah utama dikelilingi oleh kubah-kubah berbentuk sama, tapi lebih kecil.

Masjid ini terletak di bagian dalam halaman yang sangat luas dan terbuka, mengelilingi seluruh bangunan masjid. Luas halaman hampir mencapai lebih kurang satu hektar. Pada sumbu di dekat mihrab dan porch masuk bagian depan di sebelah timur, terdapat satu gerbang. Keberadaan gerbang ini memperkuat arah posisi kiblat. Ada dugaan, desain ini mendapat pengaruh dari arsitektur masjid-masjid kuno dari India, Arab dan Mesir. Dalam posisi terpisah, terdapat gerbang utama dengan arsitektur India, letaknya terpisah dari ruang utama. Bentuknya menyeruai  unit bujur sangkar beratap datar. Pada bagian depan, terdapat plengkung patah untuk masuk dari bagian atas gerbang. DI bagian tengah dihiasi dengan molding dan dentil, yaitu deretan kubus-kubus kecil, rapat seperti gigi manusia.

Pada sisi kanan (utara-timur) masjid terdapat minaret dengan bentuk yang sangat unik, dengan denah bujur sangkar yang menyangga bagian atasnya dan berbentuk seperti silindris. Hiasan badan minaret merupakan campuran model dari negara Mesir, Iran dan Arab saudi. Pengaruh Gotik juga terdapat pada masjid ini, antara lain tampak pada bagian atas jendela yang berambang patah- patah, pada bagian atasnya terdapat juga bukaan berbentuk lingkaran. Mihrabnya cukup indah, terbuat dari marmer dan diatapi oleh kubah yang runcing.